Sabtu, 24 November 2012

Mengenal Karakter Sebuah Tali dan Temali | Info Pecinta Alam

Mengenal Karakter Sebuah Tali dan Temali merupakan hal mutlak bagi para pecinta alam bebas, khususnya para pemanjat tebing (climbers). 

Ada beberapa pembahasan Mengenai Karakter Sebuah Tali dan Temali, yakni sebagai berikut :
  1. Bahan Tali
    Tali menurut bahannya terdiri atas dua jenis, yaitu tali yang terbua dari serat alam dan tali yang terbuat dari serat sintetis. Tali yang terbuat dari serat alam seperti rami (hemp), manila, sisal, dsb. Sedangkan tali jenis serat sintetis adalah sbb:
    • Nylon , Nylon adalah nama sebuah zat kimia dari gugusan polyamida. Terdiri atas dua jenis, yaitu Nilon 6 dan Nylon 6.6.
    • Polyolefin, Polypropylene dan Polyethylene adalah dua jenis Polyyolefin yang memiliki sifat yang dapat mengapung dan tidak menyerap air. 
    • Polyester, Tali dari bahan ini biasanya terbuat dari Dacron dan Terylene. 
    • Serat Campuran  (Copolymer) , Campuran yang sering dilakukan adalah kombinasi antara Polyester dengan Polyprophylene.
    • Serat Kualitas Tinggi (High Performance Fibers)
    • Logam (Kawat), Bahan tali yang satu ini merupakan bahan alternatif yang masih tergolong baru. Hal ini dimungkinkan karena penggunaan bahan tali ini masih terbatas pada kegiatan atau aktivitas tertentu, seperti kegiatan pembuatan film, pementasan sircus, untuk keperluan rescue, dsb.
  2. Konstruksi Tali
    • Laid
    • Plaited
    • Brait
    • Braided
    • Double Braid
    • Multi Braid
    • Hollow Braid
    • High-Stretch Kernmantle
    • Low-Stretch Kernmantle
    • Webbing
  3. Karakteristik Tali
    Tali yang baik memiliki karakteristik sebagai berikut :
    • Kuat
    • Mudah diikat
    • Mudah diperiksa
    • Mudah diurai
    • Berdaya guna
    • Padat/rapat
  4. Diameter Tali
    Tali yang sering digunakan berdiameter 3 – 13 mm.
    Perbandingan Tali dan Prusik yang digunakan untuk prusiking
         Ukuran Tali                        Ukuran Prusik
    3/8 inci atau 9,5 mm          1/4 inci atau 5,4 mm
    7/16 inci atau 11,1 mm      5,16 inci atau 8,0 mm
    ½ inci atau 12,7 mm          3/8 inci atau 9,5 mm
    5/8 inci atau 16,0 mm        7/16 inci atau 11,1 mm
  5. Kekuatan Tali
    Standar kekuatan tali yang direkomendasikan oleh UIAA perdiameter menggunakan rumus  : tali2 X 22 kg. Sedangkan untuk mengetahui tali yang layak digunakan untuk kegiatan alam bebas dengan uji coba untuk tali static 2 X FF1 dan untuk tali dinamik 2 X FF2.
    Ketika dibuat simpul pada tali, maka pada saat itu pula terjadi pengurangan kekuatan. Pengurangan ini tidak permanen. Hanya pada saat ada simpul tersebut, yaitu disebabkan oleh tegangan dan tekanan yang terjadi pada tali akibat simpul yang dibuat. Yang mengakibatkan tali mengalami beban normal, yaitu beban yang bekerja tegak lurus terhadap tali oleh karabiner. Setiap material yang mengalami beban normal, maka secara bersamaan akan mengalami beban tarik dan beban desak pada satu bidang melintang terhadap material. Sedangkan syarat kekuatan tali yang dipergunakan untuk vertical caving, minimal adalah= 20x(diameter)2. Jadi untuk tali berukuran 10 mm, harus memiliki kekuatan minimal:
    = 20x(diameter)2
    = 20x(10)2
    = 2.000 kg
    Beberapa tipe tali dan kekuatannya
    Tipe Tali    Kekuatan tali (dalam Kg)
    Dinamik 11 mm    2000 – 2250
    Dinamik 9 mm    1450 – 1750
    Statik 11 mm    3000 – 3100
    Statik 9 mm    1950 – 2250
    Statik 7 mm    900 – 1200
    Statik 5,5 mm    650
    Webbing solid 25 mm    1500 – 2400
    Webbing tubular 25 mm    1800 - 2250
  6. Perawatan Tali
    Adapun perawatan tali yang dilakukan adalah :
    • Tali baru sebaiknya dicuci sebelum digunakan
    • Setiap pemakaian perlu dicatat :
        - Berapa lama pemakaian
        - Penggunaannya untuk apa
        - Dalam keadaan kering atau basah
        - Menggunakan alat apa, dll
    • Hindari terkena sinar matahari langsung dalam waktu yang lama
    • Jangan menginjak tali, karena dapat menekan butiran pasir masuk kedalam tali yang dapat merusak struktur  tali                                                                              
    • Hindarkan tali dari zat-zat kimia
    • Setiap habis pemakaian sebaiknya tali dicuci
    • Mencuci tali sebaiknya menggunakan sikat yang halus atau menggunakan sikat khusus pencuci tali
    • Sebaiknya tidak menggunakan detergen pada saat mencuci tali
    • Keringkan ditempat teduh yang tidak terkena cahaya matahari langsung.
    • Simpan ditempat yang kering dengan temperature yang sedang dan digantung, usahakan  tidak menempel pada dinding.
Read More

Sejarah Pembuatan Tali dan Temali

Tali Temali

Sejarah Pembuatan Tali  dan Temali  ini pertama kali diperkenalkan oleh W.H. Carothers, seorang ahli kimia dan di produksi oleh E.I. du Pont de Memors and Co. pada tahun 1938. 

Tali dan Temali  dari bahn sintetis, khususnya nylon, pada awalnya hanya diproduksi untuk kepentingan militer dan para pelaut. Kemudian, dengan semakin berkembangnya kegiatan yang mengarah ke alam terbuka, maka tali ini pun mulai dikenal oleh penggiat alam bebas. Disamping itu, tali ini juga mengalami perkembangan dalam hal konstruksi dan bahan pembuatannya.


Sejarah Pembuatan Tali dan Temali di dunia Kegiatan kepencintaalaman atau kegiatan di alam bebas adalah Salah satu peralatan yang sangat penting dan sangat mendukung dalam pelaksanaan kegiatan ini. Tali dan Temali  bagi setiap penggiat alam bebas sudah merupakan kebutuhan utama, yang setiap saat dapat menjadi penolong hidupnya, bahkan dalam kondisi survival. Olehnya itu pengetahuan dan keterampilan tentang Tali dan Temali sangat perlu dipahami sebelum melakukan kegiatan alam bebas.

Tali dan Temali  secara harfiah (menurut arti kamus) berarti untaian-untaian panjang yang terbuat dari berbagai bahan yang berfungsi untuk mengikat, menarik, menjerat, menambat, menggantung dsb. Secara etimologi, tali temali dapat diartikan sebagai segala sesuat yang berkaitan dengan fungsi dan kegunaan tali. Tali dan Temali pada mulanya berasal dari akar-akar pohon. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan manusia, tali juga mengalami perkembangan, khususnya dalam hal bahan dan konstruksinya. 

Jika Tali dan Temali pada mulanya hanya berupa akar-akar pohon, maka selanjutnya manusia menciptakan tali dari anyaman serat alam dengan menggunakan peralatan tenun yang masih sederhana. Serat alam yang digunakan kebanyakan dari ijuk atau rambut dan serat alam lainnya seperti kapas, wol, sutera, serta serat tumbuhan yang lain. Sayangnya, tali yang terbuat dari serat alam tersebut masih memiliki keterbatasan, yakni serat alam mudah mengalami pembusukan dan penyusutan sehingga tidak bertahan lama. Hal ini tentunya memaksa manusia untuk mencari alternatif tali yang bagus, dan karena tuntutan kebutuhan akan tali yang semakin meningkat, maka terciptalah tali yang terbuat dari bahan sintetis, yang memiliki daya tahan yang lebih lama dan lebih kuat dari tali yang terbuat dari serat alam. 


Selanjutnya, selama Perang Dunia II , produksi tali dari sera sintetis ini semakin meningkat, sehingga tali yang terbua dari serat alam berkurang di pasaran. Namun setelah perang usai, kelangkaan Tali dan Temali dari serat sintetis mulai terasa. Hal ini disebabkan oleh karena bahnnya yang susah didapat dan harganya yang mahal.
Read More

Kamis, 22 November 2012

Pengertian dan Sejarah Penelusuran Gua 'Caving'

Pengertian dan Sejarah Penelusuran Gua 'Caving' yakni Caving berasal dari kata Cave= Gua. Sedangkan orang yang menelusuri gua disebut caver. Jadi caving bisa diartikan sebagai kegiatan penelusuran gua yang mana merupakan salan satu bentuk kegiatan dari Speleologi. Sedangkan Speleologi secara morfologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu : Spalion = Gua dan Logos = ilmu. Jadi, secara harfiah Speleologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang gua, tetapi karena perkembangan speleologi itu sendiri, spleologi juga mempelajari tentang lingkungan disekitar gua. 

Ada Beberapa Pengertian Penelusuran Gua "Caving' menurut para ahli Penemu mamupun para Caver, yakni :
  1. Menurut IUS (International Union of Speleology) anggota komisi X UNESCO PBB : “Gua adalah setiap ruang bawah tanah yang dapat dimasuki orang”.
  2. Menurut R.K.T.ko (Speleologiawan) : “Setiap ruang bawah tanah baik terang maupun gelap, luas maupun sempit, yang terbentuk melalui system percelahan, rekahan atau aliran sungai yang membentuk suatu lintasan aliran sungai dibawah tanah.”
Adapun Sejarah Penelusuran Gua 'Caving', yang dimulai dari tahun ke tahun, yakni :
  1. Penelusuran Gua dimulai oleh John Beaumont, ahli bedah dari Somerset, England (1674) ia seorang ahli tambang dan geologi amatir.
  2. Orang yang paling berjasa mendeskripsikan gua-gua antara tahun 1670-1680 adalah Baron Johann Valsavor dari Slovenia. Ia mengunjungi 70 goa, membuat peta, sketsa dan melahirkan buku setebal 2800 halaman.
  3. Joseph Nagel, pada tahun 1747 berhasil memetakan system perguaan di kerajaan Astro-Hongaria.
  4. Stephen Bishop, pemandu wisata gua yang paling berjasa dan membawa gua Mammoth diterima UNICEF sebagai warisan dunia.
Read More

Rabu, 21 November 2012

Peralatan Arung Jeram 'Rafting'

Adapun Peralatan Arung Jeram 'Rafting' yang perlu kita siapakan , sebelum melakukan kegiatan Arum Jeram (Refting) yakni sebagai berikut :
  • Perahu Arung Jeram
    Merupakan peralatan utama dalam mengarungi arung jeram . Secara umum dalam arung jeram disebut Inflatable raft. Sifat yang paling diharapkan dari perahu adalah tahan bentur atau awet terhadap abrasi. Karena medan yang dilalui adalah sungai yang berbatu-batu. Salah Peralatan Arung Jeram ini dibuat dari bahan sintetis yang dipadukan dengan serat nilon. Pada umumnya ada 4 bahan sintetis yaitu: EPDM (Karet Sintetis ), PVC, Neopherenen, dan hypalon. EPDM adalah bahan paling murah, sementara Hypalon yang termahal. Perahu yang tersusun atas Hypalon dalam presentase yang tinggi akan memiliki umur yang panjang dan bobot ringan. Contohnya, perahu merek Avon buatan Inggris. Merek ini memakai Hypalon sampai 80 % sehingga berani memberikan jaminan sampai masa pakai 10 tahun.
    Bentuk dasar perahunya biasanya oval. Syarat lain selain kuat adalah memungkinkan untuk manuver lebih mudah. Oleh karena itu biasanya memiliki haluan dan buritan yang mencuat, istilah teknisnya Apartuned Bow and Stern. Ciri-ciri ini biasanya selalu ada pada perahu arung jeram modern. Perahu-perahu sebelum dan sesudah perang dunia II memiliki haluan dan buritan sama tinggi dengan bagian lambung, dan biasanya terbuat dari karet sintetis. Perahu yang baik biasanya memiliki paling sedikit 4 katub pompa, ditambah dua lagi pada bagian sekat tengah atau Thwart. Perahu yang berukuran medium biasanya memiliki Bow dan Stern yang mencuat 25 sampai 35 cm. Kecuali untuk mempermudah manuver, Bow dan Stern yang mencuat ini memperhalus perahu meniti ombak-ombak di sungai yang berjeram.
  • Tali Penyelamat (Throw bag)Ini termasuk wajib dalam berarung jeram. Tali ini minimal tersedia satu buah dalam setiap perahu. Idealnya ada sejumlah crew dalam perahu. Untuk menolong anggota team yang terlempar keluar perahu dan jatuh di air liar. Suatu saat tali ini banyak membantu dalam kasus-kasus ekspedisi. Tali ini sering disebut juga Lifeline.
    Syarat yang paling dituntut dari tali ini dalam kegiatan Arung Jeram adalah daya tampung yang tinggi, mudah dilihat (warna mencolok) dan tentu saja kekuatannya. Syarat minimal, ia harus mampu menahan berat 1000 kg. Tali ini akan memiliki warna yang elektrik dan kantungnyapun berwarna elektrik. Begitu ada rekan yang jatuh ke air throw bag harus berfungsi baik ketika dilempar. Tidak boleh ada tali yang kusut atau bundet, oleh karena itu harus disusun sedemikian rupa.
  • Life JacketPelampung atau life jacket ini popular dengan sebutan PFDs ( Personal Flotation Devices). Selain berfungsi sebagai pengampung,
    PFDs ini akan melindungi tubuh bagian atas dari bahaya batu-batuan atau barang-barang yang keras lain di sungai. Juga akan melindungi tubuh dari dingin, dan memudahkan penolong waktu terjadi kecelakaan.
  • Alas kaki
    Sebaiknya mengenakan sepatu khusus untuk di air atau paling tidak sandal gunung, sepatu kets atau sepatu olah raga lainnya tidak dianjurkan dikenakan. Karena selain berat juga licin di permukaan perahu karet.
  • Helm
    Digunakan di Arum Jeram untuk melindungi kepala dari benturan batu bila kita tercebur ke sungai.
    Helm juga berguna untuk melindungi kepala dari benturan dayung dari tamu yang pecicilan di perahu. Jangan lupa gunakan sun block atau tabir surya yang waterproof untuk melindungi kulit wajah dan lengan dari sengatan matahari.
  • Dayung
    Biasa terbuat dari kayu, aluminium, Fiberglass. Panjang dayung tidak ada ketentuan yang rigid. Ukuran umum yang pas bagi orang barat untuk dayung sepanjang 60 inchi ini untuk crew. Sementara untuk kapten biasanya lebih panjang sedikit sekitar 6-7 inchi, mengingat posisi kapten adalah duduk diatas Stern yang mencuat lebih tinggi, selain memang memerlukan power yang lebih besar dan gaya atau efek-efek khusus dayung kemudi.
    Untuk Crew patokan yang paling mendasar adalah besar kecilnya Tube perahu yang menentukan jarak atau tinggi perahu dari atas permukaan air. Setelah Blade dayung tercelup seluruhnya dalam air waktu kita mendayung, dayung yang ideal akan memiliki tangkai atau ujung pegangan setinggi dagu atau hidung kita. Efek yang menguntungkan dari panjang yang ideal ini adalah fleksibelitas gerak dan power maksimal.
Read More

Selasa, 20 November 2012

Rafting 'Arung Jeram'

Rafting 'Arung Jeram' tergolong cukup popular ditanah air kita, diarena-arena bertaraf internasional macam SEA GAMES, dayung merupakan tambang emas bagi atlit-atlit kita dalam merebut medali. Tetapi olahraga Rafting  'Arung Jeram'  ini tidak hanya digemari oleh mereka yang benar-benar atlit. Anak-anak muda yang menyebut dirinya pecinta alam pun suka aktivitas ini. Dan mulai melibatkannya dalam aktivitas outdoor mereka. Bahkan sejak awal decade 70-an

Sebenarnya urusan dayung mendayung ini kalau dilihat dari media dimana aktivitas ini dilakukan digolongkan menjadi dua yaitu :
  1. Rafting  'Arung Jeram'   di air tenang (flat atau slack water)
  2. Rafting  'Arung Jeram'   Arus Deras (wild atau white water)
Kedua Golongan Arum Jerang (Dayung) memilki keunikan sendiri-sendiri. Akan tetapi kedua memiliki dasar-dasar teknik yang sama dalam mendayung.
  1. Rafting  'Arung Jeram'  Arus Tenang
    Berbicara dalam konteks Arum Jerang (Dayung) Arus Tenang tidak dapat terhindarkan untuk membicarakannya dalam term kompetisi. Kompetisi yang dilakukan diarus tenang secara umum dikategorikan dalam tiga nomer yaitu :
    • Kano
    • Rowing
    • Tradisional
    Masing-masing kategori memiliki spesialisasi sendiri-sendiri
    • Kano, Menurut jenis perahu yang dipergunakan, kano dibagi dalam dua kategori yaitu : Racing dan Touring Norner yang sering dipertandingkan dalam olah raga kano ini antara.lain
    −    Kayak 1(K1) 500m dan 1000m

    −    Kayak 2 (K2) 500m dan 1000m

    −    Kayak 4 (K4) 500m dan 1000m

    −    Canadian Cano 1 (C1) 500m dan 1000m

    −    Canadian Cano 2 (C2)500m dan 1000m
    • Rowing, Nomer Rowing semua menempuh jarak 2000m. Nomer rowing yang paling bergengsi adalah Single Scull dan Double Scull
    • Tradisional , Nomer ini merupakan warisan bangsa yang dilestarikan hingga kini. Misalkan pertandingan tradisional di sungai Musi, Perahu Naga di Hongkong, S-11 dl.
  2. Rafting  'Arung Jeram'  Arus Deras
Di Indonesia istilah yang baku untuk kegiatan alam bebas Rafting  'Arung Jeram'  Arus Deras ini belum ada (belum ada keseragaman bahasa). Wanadri menyebutnya ORAD (Olahraga Arus Deras), Anak Mapala UI menyebutnya ORAJ (Olahraga Arung Jeram), sedangkan anak ARANYACALA Trisakti menyebut dengan terminologi Arus Sungai. Ketidak seragaman ini bisa memiliki konotasi yang berbeda-beda. Tapi sejauh ini memang belum pernah ada upaya penyeragaman.
Orang-orang daratan Eropa dan Amerika secara umum menyebut kegiatan ini White Water Sport, atau juga sering dipergunakan istilah Terminologi White Watering. Di Amerika olahraga ini sudah dilakukan sejak abad 19. Sebagai contoh pengarungan sungai Colorado yang pertama dilakukan oleh Mayor John Wesly Powel tahun 1869. Ia menempuh jarak 250 mil melintasi gugusan tebing-tebing raksasa yang bercadas kritis, yang kemudian diberi nama Green Canyon. Powel melakukanya dengan perahu kecil yang tersusun atas papan kayu.
Di manca negara kegiatan ini sudah lahir sebelum negeri kita merdeka. Jauh sebelumnya sekitar satu abad. Tentu saja jika dibandingkan dengan pusat kegiatan penuh tantangan ini, Eropa dengan Amerika perkembangan arung jeram di tanah air masih seumur jagung, sebab olah raga ini baru dilirik orang sekitar awal decade 70-an. Tidak terelakkan lagi, dua kubu pergerakannya adalah Wanadri dan Mapala UI. Meskipun sejarah perkembangannya tidak terpaut jauh dengan sejarah pendakian Gunung Es atau Gunung Salju, namun prestasi yang berhasil diraih anak-anak Indonesia masih dalam biasa-biasa saja. Ini terbukti dari produktivitas yang teramat rendah dari para kelompok yang suka berpetualang di alam bebas dalam mengarungi sungai-sungai yang masih perawan, yang berjumlah ratusan bahkan ribuan di Tanah Air kita
Sejauh ini Olahraga Rafting  'Arung Jeram'  di indonesia baru beberapa sungai yang popular antara lain: Sungai Progo, Serayu, Cimanuk, Cisadane, Citanduy, Cimandiri, Citatih, Alas, Tripa dll. Itu dilakukan dalam masa dua dekade. Sungguh produktivitas yang amat rendah. Diakui atau tidak. Sebenarnya latar belakangnyapun sangat kompleks, sehingga rasanya tidak fair jika tudingan diatas terlalu ditonjolkan. Hal ini menjadi bahan diskusi yang menarik yang tidak habis diperbincangkan dalam satu atau dua hari. Secara sangat subyektif, prestasi diatas termasuk membanggakan, terutama untuk Palapsi UGM. Progo, Serayu, Tripa, Bogowonto, Elo, Carama, Mamasa, Padegolan, dibuka dan dipelopori oleh Palapsi. Sedangkan yang lain dibuka oleh Mapala UI dan Wanadri. Sedangkan sungai yang lain: Alasa dan Saddang dibuka oleh kelompok arung jeram paling handal dari negeri Paman Sam, Sobek Expedision Inc. Secara obyektif, Palapsi memberi kontribusi yang berarti dalam mengukir perkembangan kegiatan ini di Tanah Air.
Read More

Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa

Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa tentunya hal yang sangt penting diketahui terlebihi dahulu oleh para Penelusur Goa. Mengapa hal tersebut dianjurkan dan sangat diutamakan, disebabkan banyaknya hal-hal yang belum diketahui dalam Kegiatan Caving ini. Apalagi bagi para penelusur Goa yang baru mengenal situasi saat Caving.

Ada beberpa hal yang perlu di tinjau dan diperhatikan dalam Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa sebelum melakukan Caving, Ddisetiapa kegiatan Penelusuran Goa, dimanapun, Kapanpun dan siapapun itu, Yakni :
  1. Kode etik penelusur goa  dibuat karena goa merupakan lingkungan yang sangat sensitif dan mudah tercemar. Kode etik ini antara lain :

    • TAKE NOTHING BUT PICTURE (Jangan Mengambil Apapun Kecuali Gambar)
    • LEAVE NOTHING BUT FOOTPRINT ( Jangan Meninggalkan Sesuatu Kecuali Jejak)
    • KILL NOTHING BUT TIME ( Jangan Membunuh/Memotong Sesuatu Kecuali Waktu)
    • CAVE SOFTLY
  2. Setiap penelusur  gua sadar bahwa setiap bentukan alam di dalam goa dibentuk dalam kurun waktu ribuan tahun.
  3. Setiap menelusuri gua dan menelitinya dilakukan oleh penelusur gua dengan penuh respek tanpa mengganggu dan mengusir kehidupan biota di dalam gua.
  4. Setiap penelusur menyadari bahwa kegiatan speleologi dari segi olah raga maupun ilmiah bukan merupakan usaha yang perlu dipertontonkan dan tidak butuh penonton.
  5. Para penelusur tidak memandang rendah diantara sesama penelusur, begitu juga sebaliknya penelusur akan dianggap melanggar etika apabila memaksakan kehendaknya padahal persiapan kurang.
  6. Respek terhadap sesama penelusur gua ditunjukkan dengan cara
    • Tidak menggunakan bahan / peralatan, yang ditinggalkan rombongan lain, tanpa izin mereka.
    • Tidak membahayakan lainnya, seperti melempar suatu benda ke dalam goa bila ada orang di dalam gua.
    • Tidak menghasut penduduk untuk menghalangi rombongan penelusur
    • Jangan melakukan penelitian yang sama, apabila diketahui ada rombongan lain melakukan penelitian yang sama tapi belum dipublikasikan.
    • Jangan menganggap anda penemu sesuatu apabila anda belum melakukan mencari informasi.
    • Setiap usaha penelusuran merupakan usaha bersama. (jangan menonjolkan kemampuan pribadi dan ingat bahwa penelusur adalah tim)
    • Jangan menjelekkan nama sesama penelusur.
  7. Kewajiban penelusur goa
    • Menjaga lingkungan baik kebersihan, kelestariannya, dan kemurniannya.
    • Konservasi lingkungan gua merupakan tujuan utama penelusur goa.
    • Wajib memberi pertolongan kepada penelusur lain apabila membutuhkan pertolongan sesuai dengan kemampuan.
    • Menjaga sopan santun dengan penduduk sekitar.
    • Izin resmi
    • Wajib memberitahukan kondisi berbahaya pada penelusur lain tentang kondisi sekitar lingkungan goa atau di dalam goa.
     
Read More

Senin, 19 November 2012

Dasar - Dasar Pertolongan Pertama (PP) | Info Pecinta Alam

Dasar - Dasar Pertolongan Pertama merupakan tindakan pertolongan yang diberikan terhadap korban dengan tujuan mencegah keadaan bertambah buruk sebelum si korban mendapatkan perawatan dari tenaga medis resmi. Jadi tindakan Pertolongan Pertama (PP) ini bukanlah tindakan pengobatan sesungguhnya dari suatu diagnosa penyakit agar si penderita sembuh dari penyakit yang dialami. Pertolongan Pertama biasanya diberikan oleh orang-orang disekitar korban yang diantaranya akan menghubungi petugas kesehatan terdekat. Pertolongan ini harus diberikan secara cepat dan tepat sebab penanganan yang salah dapat berakibat buruk, cacat tubuh bahkan kematian.

Namun sebelum kita memasuki pembahasan Dasar - Dasar Pertolongan Pertama  (PP)  terhadap luka, akan lebih baik kita berbicara dulu mengenai pencegahan terhadap suatu kecelakaan (accident), terutama dalam kegiatan di alam bebas. Selain itu harus kita garis bawahi bahwa situasi dalam berkegiatan sering memerlukan bukan sekedar pengetahuan kita tentang pengobatan, namun lebih kepada pemahaman kita akan prinsip-prinsip pertolongan terhadap korban. Sekedar contoh, beberapa peralatan yang disebutkan dalam materi ini kemungkinan tidak selalu ada pada setiap kegiatan, aka kita dituntut kreatif dan mampu menguasai setiap keadaan

a. Prinsip Dasar Pertolongan Pertama 
Adapun prinsip-prinsip dasar dalam menangani suatu keadaan darurat tersebut diantaranya:
  • Pastikan Anda bukan menjadi korban berikutnya. Seringkali kita lengah atau kurang berfikir panjang bila kita menjumpai suatu kecelakaan. Sebelum kita menolong korban, periksa dulu apakah tempat tersebut sudah aman atau masih dalam bahaya. 
  • Pakailah metode atau cara pertolongan yang cepat, mudah dan efesien. Hindarkan sikap sok pahlawan. Pergunakanlah sumberdaya yang ada baik alat, manusia maupun sarana pendukung lainnya. Bila Anda bekerja dalam tim, buatlah perencanaan yang matang dan dipahami oleh seluruh anggota. 
  • Biasakan membuat cataan tentang usaha-usaha pertolongan yang telah Anda lakukan, identitas korban, tempat dan waktu kejadian, dsb. Catatan ini berguna bila penderita mendapat rujukan atau pertolongan tambahan oleh pihak lain.
b. Sistematika Pertolongan Pertama
Secara umum urutan Pertolongan Pertama pada korban kecelakaan adalah : 
  • Jangan Panik , Berlakulah cekatan tetapi tetap tenang. Apabila kecelakaan bersifat massal, korban-korban yang mendapat luka ringan dapat dikerahkan untuk membantu dan pertolongan diutamakan diberikan kepada korban yang menderita luka yang paling parah tapi masih mungkin untuk ditolong. 
  • Jauhkan atau hindarkan korban dari kecelakaan berikutnya. Pentingnya menjauhkan dari sumber kecelakaannya adalah untuk mencegah terjadinya kecelakan ulang yang akan memperberat kondisi korban. Keuntungan lainnya adalah penolong dapat memberikan pertolongan dengan tenang dan dapat lebih mengkonsentrasikan perhatiannya pada kondisi korban yang ditolongnya. Kerugian bila dilakukan secara tergesa-gesa yaitu dapat membahayakan atau memperparah kondisi korban. 
  • Perhatikan pernafasan dan denyut jantung korban. Bila pernafasan penderita berhenti segera kerjakan pernafasan bantuan. 
  • Pendarahan.Pendarahan yang keluar pembuluh darah besar dapat membawa kematian dalam waktu 3-5 menit. Dengan menggunakan saputangan atau kain yang bersih tekan tempat pendarahan kuat-kuat kemudian ikatlah saputangan tadi dengan dasi, baju, ikat pinggang, atau apapun juga agar saputangan tersebut menekan luka-luka itu. Kalau lokasi luka memungkinkan, letakkan bagian pendarahan lebih tinggi dari bagian tubuh. 
  • Perhatikan tanda-tanda shock. Korban-korban ditelentangkan dengan bagian kepala lebih rendah dari letak anggota tubuh yang lain. Apabila korban muntah-muntah dalm keadaan setengah sadar, baringankan telungkup dengan letak kepala lebih rendah dari bagian tubuh yang lainnya. Cara ini juga dilakukan untuk korban-korban yang dikhawatirkan akan tersedak muntahan, darah, atau air dalam paru-parunya. Apabila penderita mengalami cidera di dada dan penderita sesak nafas (tapi masih sadar) letakkan dalam posisi setengah duduk. 
  • Jangan memindahkan korban secara terburu-buru.Korban tidak boleh dipindahakan dari tempatnya sebelum dapat dipastikan jenis dan keparahan cidera yang dialaminya kecuali bila tempat kecelakaan tidak memungkinkan bagi korban dibiarkan ditempat tersebut. Apabila korban hendak diusung terlebih dahulu pendarahan harus dihentikan serta tulang-tulang yang patah dibidai. Dalam mengusung korban usahakanlah supaya kepala korban tetap terlindung dan perhatikan jangan sampai saluran pernafasannya tersumbat oleh kotoran atau muntahan. 
  • Segera transportasikan korban ke sentral pengobatan.Setelah dilakukan pertolongan pertama pada korban setelah evakuasi korban ke sentral pengobatan, puskesmas atau rumah sakit. Perlu diingat bahwa pertolongan pertama hanyalah sebagai life saving dan mengurangi kecacatan, bukan terapi. Serahkan keputusan tindakan selanjutnya kepada dokter atau tenaga medis yang berkompeten.
Read More

Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD)


Pertolongan Pada Gawat Darurat
Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) Merupakan bagian dari kegiatan berpetualang di alam bebas, Dengan kegiatan ini,kita dilatih untuk siap, tangguh, kuat, percaya diri. Setidaknya kita dapat memberikan informasi mengenai keadaan iklim dan keadaan lingkungan tersebut kepada orang lain. Namun dibalik itu semua kegiatan berpetualang dialam bebas mengandung resiko yang besar, baik resiko kecelakaan bahkan kematian. Yang kurang disadari oleh para petualang alam bebas adalah kecelakaan yang sebenarnya dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, dan pada saat kejadian tersebut belum tentu ada tenaga kesehatan disekitar tempat kejadian. 

Oleh karena itu untuk berpetualang dialam bebas amat perlu pengetahuan tentang Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) pada kegiatan di alam bebas tersebut. Pengetahuan ini bermanfaat sebagai keahlian dasar (basic survival Skill) dan ini harus dimiliki oleh setiap petualang. Kemampuan penanganan awal Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) pada korban baik diri kita maupun orang lain akan menentukan keberhasilan. Banyak kejadian kecelakaan di alam bebas yang disebabkan kurangnya pengetahuan maupun ketrampilan yang dimiliki oleh para petualang itu sendiri. 

Hal ini merupakan hasil pengamatan dari berbagai operasi SAR yang pernah dilakukan. Untuk kegiatan di alam bebas banyak hal yang perlu dipersiapkan, selain persiapan fisik, mental, peralatan, kemampuan akan pemahaman lingkungan/daerah yang diperlukan, serta pengetahuan-pengetahuan lainnya. Salah satunya ialah Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) di alam bebas. Persiapan pengetahuan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dan perlengkapan medis merupakan salah satu factor yang dapat menciptakan kondisi aman dan nyaman. Jadi dalam melaksanakan kegiatan berpetualang di alam bebas kita harus mempertimbangkan terlebih dahulu pengetahuan dan perlengkapan medis kita sebelum kita melakukan kegiatan tersebut. 
Sebagai catatan dalam Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) yang mesti kita perhatikan ialah resiko-resiko bahaya/kecelakaan yang terjadi dan jika ini telah diklasifikasikan kita harus siap dan tanggap dalam bagaimana kita menanganinya. Kemampuan dalam menghadapi situasi bahaya/kecelakaan juga amat diperlukan. Disini kita memerlukan kesiapan mental karena dengan ketenangan akan menghasilkan suatu keputusan yang cepat dan tepatdan bukan berarti kesiapan fisik kita abaikan karena untuk menolong korban diperlukan suatu fisik yang baik, karena menolong korban bukanlah hal yang mudah dan tidak jarang tanpa fisik yang baik pada si penolong malah akan membahayakan dirinya. 

 "INGAT“ Kecelakaan dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, maka siapkan diri anda sesiap mungkin sebelum anda melakukan perjalanan.
Read More

Minggu, 18 November 2012

Sejarah Berdirinya Mapala Teknisi UNM | Info Pecinta Alam

Sejarah Berdirinya Mapala Teknisi UNM berdiri sebagai unit aktifitas kegiatan mahasiswa yang bernaung dibawah panji Fakultas Teknik UNM. Mapala Teknisi berdiri sejak 13 Tahun yang lalu, tepatnya pada hari Senin, tanggal 9 oktober 1995 yang dicetuskan oleh tiga orang pendirinya, yaitu :
  • Kanda Irwansyah S.Pd (Mesin Angk “92) 
  • Kanda Mulyadi, S.Pd (Bangunan angk “92) 
  • Kanda Herman Suardi S.Pd (Teknik Mesin angk “92)
Pendeklarasian organisasi ini dilaksanakan dikawasan wisata alam Biseang Labboro’ Kab. Maros dengan nama Teknisi Cinta Alam (TCA) dan diubah menjadi Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Teknisi pada musyawarah kerja II tahun 1999 yang bertempat di ruang senat Mahasiswa Fakultas Teknik UNM Mapala Teknisi  merupakan organisasi di tingkat Fakultas yang menampung bakat dan minat serta potensi Kepecintaalaman mahasiswa Teknik UNM dalam mengembangkan Tri dharma Perguruan Tinggi dengan visi yaitu “Mapala Teknisi sebagai wahana intelektual untuk melahirkan teknokrat yang berwawasan lingkungan sebagai manifestasi dari potensi kepecintaalaman dan disiplin ilmu mahasiswa.
Adapun Misi dan Visi dari Mapala Teknisi Yakni :
  • Untuk mengembangkan potensi mahasiswa dan kecendekiawanan yang berwawasan dan ramah lingkungan” Dari visi dan misi tersebut diharapkan dari perjalanan organisasi ini MAPALA Teknisi dapat menjadi yang terbaik dan mencapai tujuannya yaitu “Terciptanya sumber daya anggota yang berkualitas yang mampu menyelenggarakan tugas struktural dan fungsional serta dapat mengimplementasikan potensi kepecintaalaman dan disiplin ilmu mahasiswa yang dimiliki sebagai teknokrat yang berwawasan dan ramah lingkungan.
  • Adapun maksud dari visi dan misi serta tujuan tersebut adalah mengkolaborasikan antara potensi kepecintaalaman dengan disiplin ilmu keteknikan agar tercipta sinergitas yang menjadikan seorang mahasiswa sekaligus teknokrat yang memiliki wawasan dan kepedulian akan kelestarian lingkungan hidup.
Mapala Teknisi mendasarkan kegiatannya pada Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berwawasan almamater, berazaskan kekeluargaan dan bersifat RESOSIL (Rekreasi, Olagraga, Sosoal dan Ilmiah). Rekreasi berarti kegiatan untuk menikmati dan menghayati keindahan alam, Olahraga berarti kegiatan olah tubuh dialam bebas, Sosial berarti bahwa kegiatan Mapala Teknisi berorientasi pada pengabdian masyarakat, sedangkan Ilmiah mruapakan kegiatanMapala Teknisi yang mencakup kegiatan pengembangan daya nalar untuk kepentingan kelangsungan lingkungan hidup. 
Sistem Pembinaan dan Pengembangan Anggota Dalam membina dan mengembangkan anggota Mapala Teknisi terbagi dalam status keanggotaan yaitu: 
  • Anggota muda, 
  • Anggota tetap, 
  • Anggota kehormatan, 
  • Anggota luar biasa.
Adapun Sistem pendidikan yang digunakan bersifat khusus dan berkesinambungan:
  • Sistem rekruitmen, dengan menggunakan suatu pendidikan dasar (DIKSAR) sekali dalam setahun. Diksar ini terbagi menjadi diklat indoor untuk teori dan diklat out door sebagai aplikasinya. 
  • Pendidikan dan pengembangan fase orientasi umum, setelah lulus Diksar dan diterima sebagai anggota muda Mapala Teknisi, diadakan pengenalan-pengenalan lanjutan meliputi lingkungan hidup, materi keorganisasian dan olahraga alam bebas. 
  • Pendidikan dan pengembangan fase spesialisasi, setelah melampaui fase orientasi umum, anggota muda dapat memilih bidang olahraga yang diminati untuk mendapatkan materi-materi pendalaman. Untuk materi lingkungan hidup dan keorganisasian merupakan materi wajib yang harus dipelajari. 
  • Fase pengembangan bagi anggota secara keseluruhan melalui kegiatan-kegiatan Mapala Teknisi Dan disamping bidang-bidang kegiatan yang ada, Mapala Teknisi juga mempunyai wadah lain bagi pengembangan pribadi anggota dan organisasi melalui media jurnalistik SETAPAK, yaitu Sajian berita Petualangan dan AdvoKasi dan Majalah Dinding BOULDER, sebagai sarana informasi dan komunikasi kepecintaalaman dan lingkungan hidup. 
Fasilitas Bagi Anggota Dengan menjadi anggota Mapala Teknisi banyak manfaat yang bisa diperoleh. Setiap anggota mempunyai hak untuk menggunakan dan memanfaatkan fasilitas organisasi, diantaranya peralatan dan perlengkapan olah raga alam bebas, memanfaatkan perpustakaan dan dokumentasi Mapala Teknisi, menambah pengetahuan tentang kepecintaalaman dan lingkungan hidup melalui terbitan-terbitan buletin Setapak dan majalah dinding Boulder, serta kesempatan-kesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan Mapala Teknisi maupun pihak-pihak luar baik tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional. Selain itu manfaat yang lain adalah dari segi pengelolaan dan manajemen organisasi. 
Ketua Umum Mapala Teknisi Berdasarkan Periodenya  dari Tahun 1996 - 2009
  • Sapril, S.Pd (Elektro angk.95) (ketua umum periode 1996-1999) 
  • Alim Bachry S.Pd (Elektronika angk.95) (ketua umum periode 1999-2000) 
  • Ilham Sade S.Pd (Elektronika angk.95) (ketua umum periode 2000-2001) 
  • Muh. Janes S.Pd (Jur. Mesin angk.96) (ketua umum periode 2001-2002) 
  • Ilham Djafar A.Md (Elektronika angk.99) (ketua umum periode 2002-2003) 
  • H a p r i (Jur. Elektronika angk.99) (ketua umum periode 2003-2004) 
  • Husni Muhammad S.Pd (Mesin angk.99) (ketua umum periode 2004-2005) 
  • Ibnu Munsir A.Md (Elektronika angk.01) (ketua umum periode 2005-2006) 
  • Alamsyah Salim S.Pd(Elektronika angk.00) (ketua umum Periode 2006-2007) 
  • David Nayoan (Mesin. Angk.03) (PAW ketua umum 2006 – 2007) 
  • Syamsul Efendi (Otomotif angk.03) (ketua umum periode 2007-2008) 
  • Munawir Thamrin (Mesin angk.04) (ketua umum periode 2008-2009) 
  • Rifal Herman (Mesin angk.04) (ketua umum periode 2009)
Prestasi dan Kegiatan Sampai dengan usianya yang hampir ke-13 tahun prestasi-prestasi yang sudah diraih Mapala Teknisi diantaranya:
  • Penghijauan kampus (aksi kampus I) 1999 
  • Ekspedisi GAS I (pendakian gunung Gede, Agung, Semeru), 2000. 
  • Bidang pendakian dan observasi Taman Nasional Jawa Barat, Bali dan Jawa Timur). 
  • Juara III Tingkat Nasional Lomba Rimba Raya, 2000. Dilaksanakan oleh Mapala UMI 
  • Penghijauan Kampus (Aksi kampus II) 2000 
  • Ekspedisi GAS II (pendakian gunung Gede, Agung, Semeru), 2001. 
  • Bidang pendakian dan observasi Taman Nasional Jawa Barat, Bali dan Jawa Timur). 
  • Latihan dan Pemantapan (LAPAN) 2002, bekerja sama dengan BAPEDAL Reg. III, WALHI Sulsel, LBH Sulsel dan BASARNAS Prop. Sulsel 
  • Penghijauan kampus (aksi kampus III) 2002 
  • Juara I Tingkat Nasional Lomba Cross Country Wisata. 2002. Dilaksanakan oleh HIMA Geologi UNHAS. 
  • Pekan Peduli Lingkungan Hidup PPLH, 2002. 
  • Juara II Tingkat Nasional Lomba Napak Tilas,2003. Dilaksanakan oleh Mapala Univ. 45 
  • Pekan Pendidikan Lingkungan Hidup II Kab Sinjai, 2004 
  • Pekan Pendidikan Lingkungan Hidup III Kab Selayar, 2004 
  • Pekan Pendidikan Lingkungan Hidup IV Kab Soppeng, 2005 
  • Koord Forum Pemerhati Lembanna Mapala Se- UNM, 2006. Advokasi Kasus sengketa tanah Lembanna 
  • Pekan Pendidikan Lingkungan Hidup V Kota Parepare, 2006 
  • Pekan Pendidikan Lingkungan Hidup VI Kab. Polewali Mandar, 2008 • Pekan Pendidikan Lingkungan Hidup VII Kab. Jeneponto, 2009 
  • Pekan Pendidikan Lingkungan Hidup VII Kab. Maros, 2009 
  • Penelitian Berupa Observasi diberbagai Taman Nasional di Indonesia. 
  • Pendidikan: Pelatihan Dasar Pecinta Alam untuk tingkat SMU 
  • Lain-lain: Mengadakan kampanye stop Vandalisme, aksi sticker dan poster, Musik Hijau, dll. Memperingati hari lingkungan hidup se-Duni. 
Artikel : Info Pecinta Alam
Salinan : Mapala Teknisi FT UNM
Read More

Sejarah Berdirinya Mapala UI | Info Pecinta Alam

Mapala UI bukanlah organisasi yang besar atau dibesarkan, tetapi, Mapala UI adalah organisasi yang selalu berusaha membesarkan dirinya. " Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia – atau lebih akrab dipanggil dengan akronim Mapala UI – merupakan organisasi pencinta alam tingkat kampus yang ada di lingkungan Universitas Indonesia. Mapala UI, yang berdiri pada 12 Desember 1964, tampil sebagai pelopor dari organisasi sejenis yang tumbuh setelahnya di tanah air. Untuk pertama kalinya, organisasi pencinta alam lahir di lingkungan pendidikan dan dari tangan para intelektual muda bangsa ini. 

Pendirian Mapala UI tidaklah semudah dan secepat yang dikira. Hambatan dan rintangan terus saja menghalangi. Sebelum berdirinya Mapala UI, sebenarnya sudah ada kelompok-kelompok kecil2 mahasiswa di UI yang kerjaannya keluyuran di alam bebas. Namun sayangnya, kelompok-kelompok kecil tersebut tidak terkoordinir dengan baik dalam sebuah wadah organisasi yang mengkhususkan dirinya pada soal kepencinta-alaman. Adalah seorang Soe Hok Gie yang mencetuskan ide pembentukan suatu organisasi yang dapat menjadi wadah untuk mengkoordinir kelompok – kelompok tadi, berikut kegiatan mereka di alam bebas. Gagasan ini mula – mula dikemukakan Soe Hok-gie pada suatu sore, 8 Nopember 1964, ketika mahasiswa FSUI sedang beristirahat setelah mengadakan kerjabakti di TMP Kalibata. Sebenarnya gagasan ini, seperti yang dikemukakan Hok-gie sendiri, diilhami oleh organisasi pencinta alam yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19 Agustus 1964 di Puncak gunung Pangrango. 

Organisasi yang bernama Ikatan Pencinta Alam Mandalawangi itu keanggotaannya tidak terbatas di kalangan mahasiswa saja. Semua yang berminat dapat menjadi anggota setelah melalui seleksi yang ketat. Sayangnya organisasi ini mati pada usianya yang kedua. Soe Hok Gie, salah satu angkatan pendiri Mapala UI Adapun organisasi yang diidamkan Hok-gie itu merupakan organisasi yang dapat menampung segala kegiatan di alam bebas, dan ini dikhususkan bagi mahasiswa FSUI saja. Kegiatan ini terutama pada masa liburan. Bedanya dengan kelompok yang ada, gagasan ini terutama ditekankan pada perlunya memberikan kesempatan pada mereka yang sebelumnya pernah keluyuran , untuk melihat dari dekat tanah airnya. 

Tujuan dari organisasi ini mencakup tiga hal yaitu:
  • Untuk memupuk patriotisme yang sehat di kalangan anggotanya. Ini dapat dicapai dengan hidup di alam dan rakyat kebanyakan. Memang tekad yang mendasari pendirian organisasi ini adalah suatu keyakinan bahwa patriotisme yang sehat tidak mungkin timbul dari slogan – slogan, indoktrinasi – indoktrinasi, ataupun poster – poster. Patriotisme yang sehat hanyalah mungkin dibina atas partisipasi yang aktif dari seseorang melalui hidup di tengah – tengah alam dan rakyat Indonesia pada umumnya. Adalah hal yang mustahil, bahwa cinta tanah air dapat timbul melalui jendela – jendela bis atau mobil mewah. 
  • Mendidik para anggota, baik mental maupun fisik. Sebab seorang kader yang baik adalah kader yang sehat jasmani dan rohaninya. Disini juga ditekankan aspek edukasi tanah air secara aktif dari dekat. 
  • Untuk mencapai semangat gotong royong dan kesadaran sosial. Sampai saat ini, tujuan – tujuan tadi belum tercapai secara maksimal, tetapi titik terang sudah terlihat. Dalam pertemuan tanggal 8 Nopember 1964 itu, gagasan Hok-gie mendapat sambutan baik di kalangan mahasiswa FSUI yang senang ”keluyuran” di alam bebas”. Maulana Ibrahim, Koy Gandasuteja, Amin Sumardji, Ratnaesih, dan Edhi Wuryantoro, yang waktu itu menjadi pengurus dari Ikatan Pencinta Alam Mandalawangi, bersedia membantu. Bahkan bila perlu melepas jabatan tadi. 

Setelah berbincang – bincang selama kurang lebih satu jam, semua yang hadir antara lain :
  • Soe Hok-gie (M-007-UI), 
  • Maulana (M-001-UI), 
  • Koy Gandasuteja (M-011-UI), 
  • Ratnaesih (kemudian menjadi Ny. Maulana; M-003-UI), 
  • Edhi Wuryantoro (M-009-UI), 
  • Asminur Sofyan Udin (M-002-UI), 
  • Darmatin Suryadi (M-015-UI), 
  • Judi Hidayat Sutarnadi (M-008-UI), 
  • Wahjono (M-010-UI), 
  • Endang Puspita, 
  • Rahayu,Sutiarti (kemudian menjadi Ny. Judi Hidayat; M-004-UI), 
setuju untuk membicarakan gagasan tadi pada keesokan harinya di FSUI. Pertemuan kedua diadakan di Unit III bawah gedung FSUI Rawamangun, didepan ruang perpustakaan. Hadir pada saat itu semua yang sudah disebut ditambah Sdr. Herman O. Lantang yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI. Pada saat itu Sdr. Udin mengusulkan nama organisasi yang akan lahir itu IMPALA, singkatan dari Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam.”Biar keren deh, namanya seperti OKB (Orang Kaya Baru, tetapi isinya gembel melulu),”ujarnya. Setelah pendapat ditampung, akhirnya diputuskan nama organisasi yang akan lahir itu IMPALA. 

Kemudian pembicaraan dilanjutkan dengan membahas kapan dan dimana IMPALA akan diresmikan. Suatu hal yang sangat kebetulan sekali pada waktu itu Sdr. Willy Han dari Senat Mahasiswa FSUI merencanakan piknik ke Ciloto dalam rangka pembinaan mahasiswa baru pada tanggal 15 Nopember 1964. Rencana itu kurang mendapat sambutan dari mahasiswa yang ketularan gagasan pendirian IMPALA yang beberapa diantaranya anggota senat. Mereka ini mengusulkan rencana piknik ke Ciloto dialihkan ke Cibeureum.Rencana ini diterima. Sebelum berangkat, pada tanggal 13 Nopember 1964, Koy, Maulana, Edhi, Amin, dan Ratnaesih bertemu di kafetaria FSUI untuk membicarakan peresmian Impala di Cibeureum. Semua setuju bahwa peresmian IMPALA akan dilangsungkan dibawah siraman air terjun Cibeureum. Kemudian untuk membuat suatu kejutan mereka sepakat untuk mengirimkan tim pembuka jalan dan menyiapkan tempat peresmian IMPALA. Keesokan harinya, jam 13.00 rombongan pendahulu berangkat secara diam – diam ditambah 2 orang ”Guest Star” yaitu Halina Hambali dan Siti Aminah. Karena sampai di Cibodas hampir jam 20.00, rombongan terpaksa menginap di Cibodas (sekarang ini lapangan parkir). 

Pada masa itu, hubungan Jakarta – Puncak masih sukar, karena bus masih jarang. Dari pertigaan Cibodas, rombongan terpaksa jalan kaki. Sepanjang perjalanan Cimacan – Cibodas sepi sekali. Maklum, pada waktu itu sisa – sisa gerombolan Kartosuwirjo masih banyak berkeliaran di Gn. Gede – pangrango. Meskipun di kiri kanan jalan ada beberapa rumah penduduk, semuanya sudah tertutup, hanya ada beberapa lampu minyak yang menempel. Pagi – pagi sekali rombongan ini berangkat menuju Cibeureum. Namun hingga tengah hari, rombongan besar yang dinanti – nanti tidak kunjung datang. Akhirnya diputuskan untuk kembali ke Jakarta dan menunda peresmian pendirian IMPALA. Ternyata bus yang membawa rombongan mengalami mogok di Cibulan dan tidak bisa meneruskan perjalanan ke Cibodas. Meskipun usaha pertama gagal, para perintis ini tidak menyerah. Sementara mematangkan ide, mereka bertukar pikiran dengan Pembantu Dekan III bidang Mahalum, yaitu Drs. Bambang Soemadio dan Drs. Moendardjito yang ternyata menaruh minat terhadap organisasi tersebut dan menyarankan agar mengubah nama IMPALA menjadi MAPALA PRAJNAPARAMITA. Alasannya nama IMPALA terlalu borjuis. Dan pada waktu itu segala yang borjuis, habis diganyang. Nama ini diberikan oleh Bpk Moendardjito. Mapala merupakan singkatan dari Mahasiswa Pencinta Alam. Dan Prajnaparamita berarti dewi pengetahuan. Selain itu Mapala juga berarti berbuah atau berhasil. Jadi dengan menggunakan nama ini diharapkan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh anggotanya akan selalu berhasil berkat lindungan dewi pengetahuan. Dewi Prajnaparamita juga menjadi lambang dari senat FSUI saat itu. 

Lambang yang digunakan adalah gambar dua telapak kaki dengan tulisan MAPALA PRAJNAPARAMITA dibawahnya. Telapak kaki kiri terletak lebih kedepan dari telapak kaki kanan. Hal ini melambangkan kehadiran di alam bebas dalam bentuk penjelajahan dan sebagainya. Selain itu lambang telapak kaki ini juga diilhami penggunaan tapak kaki oleh raaja Purnawarman dalam prasasti – prasastinya yang dapat diartikan lambang kebesaran. Dibawah tulisan MAPALA PRAJNAPARAMITA ditambah tulisan FSUI yang menunjukkan tempat bernaungnya organisasi ini. Setelah segala persiapan selesai, pada tanggal 5 Desember 1964 berangkatlah 3 orang yaitu Hok-gie, Maulana dan Ratnaesih ke daerah Ciampea untuk survei Persami yang akan dilaksanakan pada tanggal 11 dan 12 Desember 1964. Pada tanggal 11 Desember pukul 06.30 semua peserta yang mencapai lebih dari 30 orang berkumpul di lapangan Banteng dan berangkat. Pada pukul 11.00, mulailah rombongan mendaki lereng – lereng terjal dari bukit kapur Ciampea. Hari yang panas waktu itu membuat beberapa peserta ”anak mami” kelelahan dan merepotkan panitia. Jam 14.30 peserta tiba di bukit. Tenda segera didirikan. 

Pada malam hari angin bertiup sangat kencang dan hujan lebat. Tenda banyak yang roboh, sehingga peserta banyak yang berteduh di gubuk yang kebetulan ada disitu. Hampir saja peresmian Mapala dibatalkan karena sampai dengan jam 20.00 hujan masih lebat. Namun akhirnya pada pukul 21.00 hujan berhenti dan bulan bersinar terang. Semua peserta yang basah kuyup dikumpulkan untuk mengadakan rapat pembentukan MAPALA yang dipimpin Hok-gie. Ketika rapat sedang berjalan, tiba – tiba datang tamu dari Jakarta yaitu Soemadio, Soemadjito dan Mang Jugo Sarijun yang sengaja datang untuk menyaksikan upacara peresmian MAPALA. Maulana terpilih sebagai ketua pertama dan formatur tunggal. Sampai dengan tahun pertama, Mapala Prajnaparamita FSUItelah memiliki 12 orang anggota yaitu AS Udin, Rahaju, Surtiarti, Ratnaesih, Endang Puspita, Mayangsari, Soe Hok-gie, Judi Hidajat, Edhi Wuryantoro, Koy Gandasutedja, Wahjono, dan Maman Abdurachman. 

Perubahan menjadi Mapala UI Niat untuk membentuk Mapala UI sebenarnya telah lahir ketika pada tahun 1966 Herman O. Lantang diberi tugas sebagai koordinator pembentukan Mapala UI oleh Ketua Dewan Mahasiswa UI, Drs. Med. JMV. Suwarto, yang didukung penuh oleh Rektor UI ketika itu, Prof. Dr. Soemantri Brodjonegoro. Tapi entah mengapa pembentukan Mapala UI ini belum bisa terlaksana dan ditangguhkan untuk waktu yang belum ditentukan. Usaha untuk membentuk Mapala UI ini pun belum juga terwujud hingga Mapala Prajnaparamita menginjak usia yang ke-6. Sampai tahun 1970-an, di beberapa fakultas di UI terdapat beberapa organisasi pencinta alam antara lain : Ikatan Mahasiswa Pencinta alam (IMPALA) di Psikologi, Climbing And Tracking Club (CATAC) di Ekonomi, Yellow Xappa Student Family (Yexastufa) di Teknik (kemudian menjadi Kamuka Parwata (KAPA), Climbing And Tracking (CAT) di Kedokteran, dll. Setelah berjalan beberapa waktu di fakultasnya masing – masing, organisasi–organisasi ini merasakan dan menyadari bahwa Mapala UI yang telah terbentuk dan disetujui oleh Rektor UI (Prof. DR. Sumantri Brojonegoro (Alm.)) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa adalah milik seluruh mahasiswa UI. Oleh karena itu organisasi–organisasi tersebut setuju untuk bersatu dalam satu wadah yaitu MAPALA UI. 

Read More

Support

Tentang Kami

Info Pecinta Alam adalah Situs Media Online yang menyajikan berbagai informasi yang berkaitan dengan Dunia Kepecintaalaman, Kepetualangan maupun Info Pecinta Alam lainya.
Designed By Seo Blogger Templates